KUMPULAN BLOG

Sabtu, 15 November 2014

Guru dan Kaus Kaki

Siang itu anak-anak ikut dalam acara perlombaan yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan di Jakarta. Tak seberapa lama anak-anak dan guru mulai aktif dalam kegiatan lomba. Siswa sebagai peserta dan guru sebagai pendamping. Ada yang aneh ketika salah satu siswa tengah didampingi oleh gurunya. Guru tersebut tatkala melihat siswanya yang gelisah meskipun di dekatnya ada guru yang menemaninya. Pak Guru : “Beno. Kenapa kamu terlihat gelisah? Murid : “Nggak kog Pak! Pak Guru : “Apa soalnya sangat sulit dan kamu mengalami kesulitan? Murid : “Nggak juga Pak! Pak Guru : “Lalu kenapa Beno? Bapak jadi khawatir kamu tidak menang dalam kompetisi ini.” Murid : “Sebenarnya sih nggak perlu khawatir, Pak! Asalkan bapak agak jauh dari saja sudah cukup, kog! Pak Guru : “Ya udah kalau begitu.” Tapi apa alasannya kog kamu meminta bapak menjauhi kamu? Murid : “Itu tu Pak! Kaos kaki bapak baunya kayak bangkai! Pak Guru : “Waduuuuh! #*^Q%@^%^!!!**

Oleh-oleh dari Tanah Abang

Cerita ini berawal dari keseringan saya mendengar tentang oleh-oleh yang dibawa jamaah selepas dari tanah suci. Bentuknya bisa kurma, sajadah maupun kopiah putih. Karena jaman sekarang mudah sekali mencari oleh-oleh khas Arab tersebut di Indonesia menjadikan alternatif para jamaah untuk membeli oleh-oleh tersebut di Indonesia. Sebut saja Yono, karena saking hobinya mencari oleh-oleh khas jamaah haji tersebut menjadikannya malu bukan kepayang. Yono : “Hai, Mas Amin. Dengar-dengar kalau pak Slamet pulang haji ya?” Amin : “Iya, emang kenapa mas Yono?” Yono : “Kan biasanya beliau membawa oleh-oleh dari Mekah.” Amin : “Ah masak iya? Emang mas Yono biasanya dapat bagian ya? Yono : “Ya iya lah mas! Lihat saja kopiah, tasbih dan sajadah saya asli dari Mekah! Amin : “Ooo begitu.” Boleh juga tuh mas Yono. Saya juga mau minta bagian lah! Karena penasaran dengan apa yang diceritakan Yono, Amin minta diantar Yono ke rumah pak Haji. Yono + Amin : “Assalamu’alaikum Pak Haji! Pak Slamet : “Wa’alaikum salam, ada yang bisa saya bantu? Amin : Begini Pak Haji. Yono bilang kalau oleh-oleh yang diberikan Bapak asli dari Mekah ya? Yono : “Mas Amin masih nggak percaya ya? Dengan yakin Yono meyakinkan bahwa oleh-olehnya asli dari Mekah. Pak Slamet: “Iya asli dari Mekah karena dibuat di sana, tapi saya belinya di Tanah Abang. Amin : Jadi oleh-oleh ini dibeli di Tanah Abang? Mendengar cerita tersebut Yono pun terperanjat. Yono : “Lho kirain dibeli di Mekkah sana, Pak Haji! Pak Slamet, Amin : Makanya Yon kalau ada orang pulang haji jangan mikirin oleh-olehnya aja! Yono : “Huh, kirain asli dibeli di Mekah, nggak tahunya di Tanah Abang to? Pak Slamet dan Amin pun tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah Yono. Yono-yono …….*^&%$$$

Sarung Kakek

Lebaran pun tiba. Sudah menjadi kebiasaan di hari itu semua orang bersalaman sebagai ungkapan rasa penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukan, teman bersalaman dengan teman, ustadz dengan muridnya, anak dengan orang tuanya dan yang lebih wajib lagi anak yang salaman sekaligus sungkem kepada orang tuanya dan cucu kepada nenek kakeknya. Seperti apa yang terjadi pada keluarga Tarja, karena sudah lama tidak bertemu dengan kakek-neneknya yang sudah tua renta merekapun bersimpuh di pangkuan mereka sebagai tanda sungkem sekaligus meminta maaf atas kelalaian mereka dalam mengurus kakek-neneknya. Apalagi selama ini apa yang dimiliki kakeknya selalu dia ambil tanpa izin terlebih dahulu, akibatnya Tarja merasa bersalah dan berdosa membuat Kakek dan Neneknya marah. Tarja : “Nek, Tarja minta maaf karena selama ini Tarja tidak peduli kepada nenek, kadang kata-kata Tarja sering menyinggung hati nenek, apalagi kalau Tarja lagi pusing, nenek yang selalu jadi korban kekesalan Tarja.” Dengan penuh harap tarja sungkem meminta keridhaan neneknya seraya menangis tanda penyesalan. Nenek : “Iya, Cu. Nenek juga minta maaf apabila selama ini kata-kata nenek menyakiti perasaan cucu.” Nenek pun menangis karena merasa menyesal sering memarahi Tarja. Tarja : “Kek, Tarja selama ini banyak salah pada kakek, kadang keceplosan kata-kata yang membuat hati kakek jengkel.” Kakek pun terharu atas kata-kata Tarja dan Kakek menangis karena merasa salah ketika merawat cucunya. Suasana tampak haru. Tarja pun selesai sungkem kepada mereka berdua. Akan tetapi ada yang salah dan yang tidak dipahami Tarja, kenapa sudah satu jam Kakek dan Neneknya masih saja menangis. Tarja : “Lho, Kakek dan Nenek kok masih nangis terus kan kita sudah saling maaf-memaafkan!?” Kakek : “Iya, Cu. Memang Kakek dan Nenek sudah memaafkan kamu, tapi satu yang belum kakek maafkan.” Tarja : “Emang apa yang belum kakek maafkan? Kakek : “Itu sarung kakek satu-satunya masih juga kamu rampas dari Kakek! Celakanya kakek harus memakai celana kolor padahal hari ini hari lebaran.” Tarja : Walah ……………Kakek ada-ada saja! &&^W*Q(Q)(E^R!@#(# Dasar bocah edan!

Gara-gara Apel Palsu

Apel mengkilat amat menggoda, tersusun rapi di sudut meja. Semua tamu saling bersalaman setelah itu duduk sambil berbincang-bincang tentang ini itu. Meski tamu-tamu tersebut paham petul dengan apel yang dipajang, namun ada dua orang yang tergoda dengan penampilan apel tersebut. Bejo : Bud, ada apel di pojok itu kayaknya enak.” Budi : Iya kayaknya mak krenyes kalau kita makan, Jo! Bejo : Kamu mau ngambil nggak, Bud? Budi : Nanti dulu, kan kita baru masuk, Jo! Bejo : Ah, saya sudah nggak sabar! Budi : Silahkan saja kalau nggak malu ambil duluan! Bejo pun mengambil apel di sudut meja tersebut, namun dia tidak mengetahui bahwa apel tersebut apel hiasan yang terbuat dari lilin. Tanpa basa-basi Bejo langsung menggigit apel tersebut tanpa meminta izin tuan rumah. Konta saja mulut Bejo penuh dengan lilin karena apel yang digigit ternyata palsu karena terbuat dari lilin. Selain malu semua tamu ikut menertawakannya. Oalah Bejo Bejo…..

Ini baru royal baby

Dua orang berselisih paham tentang apa itu royal baby. Maklum saja mereka orang yang terlalu banyak nonton tv tapi tidak mengerti apa yang ditontonnya. Karena memang anak-anak bandel yang jarang masuk kelas kecuali nonton tv, bermain ps dan kluyuran. “Dul! Tahu nggak sekarang lagi ribut-ribut tentang royal baby? Tanya Somat “Ah. apaan sih kog saya nggak ngeh? Jawab Dulah. “Dul dul kamu ini katanya anak sekolahan kog nggak tahu royal baby? “Heleh, kayak kamu tahu apa itu royal baby, Mat! “Hari gini loe nggak ngerti baby royal!? Cemen loe, Dul! Ejek Somat. “Emang kamu tahu apa tentang royal baby atau baby royal? Tanya Dulah. “Ya iya lah! Aku kan anak sekolahan dan rajin nonton tv.” Jawab Somat meyakinkan. “Lah kira-kira apa artinya dan apa contohnya? Tanya Dulah lagi. “Itu lho kalau orang yang banyak duit dan orangnya dermawan, seperti itu tuh tante-tante sebelah.” Somat menjelaskan “Oalah Mat-mat! Makanya jadi orang jangan sok tahu. Kalau tante-tante sebelah itu bukan royal baby tapi Rondo Royal.” “ha!” *&*(!!&@@^@^ ;) ;)

Sabtu, 31 Mei 2014

Tim Sukses Jokowi VS Tim Sukses Prabowo





Diam-diam para tim sukses Jokowi dan Prabowo mengatur siasat perang terbuka. Mereka sama-sama mendapatkan bayaran lebih dari sang komandan agar saling menulis berita, opini maupun puisi-puisi sindiran demi mensukseskan ambisi menjadi presiden. Tapi tak disangka-sangka kedua kubu TS tersebut ternyata sudah kenal. Dan mereka hakekatnya saling bermain mata agar dunia persilatan politik semakin heboh. Lebih akuratnya begini ceritanya.

TS Jokowi :
Bro. Kamu kog semangat menjadi TS kenapa bro?

TS Prabowo:
Lah, abang juga semangat jadi Tsnya Pak Jokowi. Emang Kenapa?

TS Jokowi:
Gini Bro, diem-diem sampeyan dibayar berapa sama Bos Prabowo?

TS Prabowo:
Lah cukup saja buat beli es dan uang jajan anak-anak

TS Jokowi
Ah masak, hanya cukup untuk beli es dan jajan anak-anak?

TS Prabowo:
Walah. Sampeyan kog malah gak percaya? Emang harusnya berapa?

TS Jokowi :
Loh. Sampeyan ini tiap hari menulis berita, opini bahkan fitnahan manamungkin dibayar sedikit. Ah nggak masuk ngakal.

TS Prabowo:
Emang sampeyan dibayar berapa? Kog tulisanya selalu nyindir saya, ngata-ngatain bos saya duda jadi nggak layak jadi presiden. Emang mau nyariin saya calon istri biar bisa berduaan terus?

TS Jokowi:
Ya nggak lah, yang penting kita bikin aja Kompasiana dan dunia persilatan heboh. Yang penting uang bonus kita aman-aman saja.

TS Prabowo:
Oke bro. Biarin aja para cecurut itu pada ribut, kepala cenat-cenut dan mulut pada ndower. Lagian oon juga lha wong dibayar nggak kog mau ribut-ribut...hehe. Aneh bin ajaib”

TS Jokowi:
Justru itu bro, kalau medsos ini kenceng ributnya kan capres kita sama-sama kondang. Ya kan? Lagian rekeningnya pak Jokowi kan saya yang pegang. Lumayan lah sapa tahu ada serserannya.

TS Prabowo:
Ndasmu. Sampeyan enak, lha saya dibilangin timses slangkangan, padahal saya jg nggak tahu masalahnya.

TS Jokowi:
Makane, dadi TS ojo setengah-setengah. Kudu ngerti slangkangan

Tiba-tiba Prabowo dan Jokowi Keluar dari peraduannya.

Prabowo + Jokowi
Hai para TS sudah sukses mengacaukan pikiran rakyat ?

TS Jokowi +TS Prabowo:
Sukses Padukaaaa!!!

Prabowo +Jokowi :
Baguuuuus lanjutkan sampek para cecunguk itu pusing tujuh keliling.
Wakakakakakaka

Selamat beribut-ribut ria......


Jumat, 23 Mei 2014

Gara-gara Bedug

Dua anak saling bertanya tentang puasa. Sebut saja Mira dan Bunga, kebetulan mereka teman satu kampung dan bermain selalu berdua. Tidak hanya obrolah sekolah, tentang puasa pun tidak ketinggalan. Itulah anak-anak kadang tingkahnya menggelitik dan membuat tertawa.

Mira    : Hai, kamu puasa ndak?
Bunga : Puasalah..lha kamu puasa ndak?
Mira    : Puasa lah kan kata mbah kalau nggak puasa nanti gak ikut lebaran
Bunga : Kalau mamak bilang, aku disuruh puasa untuk latihan. Kamu puasanya sehari nggak?
Mira    : Iya, soalnya nanti klu saya puasa penuh satu bulan bapak mau beliin saya sepeda.
Bunga  : Kalau aku puasanya cuman puasa beduk.
Mira     : Kenapa?
Bunga  : Emang kamu nggak tahu ya kalau sekadang ada puasa beduk?
Mira     : Nggak
Bunga  : Puasa beduk itu ntar kalau ada suara beduk saya berbuka.
Mira     : Ooo begitu. Ya udah tunggu saja beduknya bunyi!

Sambil asyik mereka bercakap-cakap dan bermain sore dan maghrib pun menjelang. Bunga tetap bermain karena kebetulan di masjid sudah tidak ada beduk lagi karena digantikan suara speaker. Terdengarlah suara azan dan dan Mira bergegas pulang. Sedangkan Bunga tetap ditempatnya duduk terpaku diam membisu dan pucat bercampur sedih karena beduk yang dinanti-nantikan tidak juga berbunyi.

Dengan suara keras Bunga berteriak memanggil mamak nya.

Bunga     : mak,  mae kog dari tadi aku nggak denger beduk ya? Jadi aku nggak makan seharian.

Sambil tepuk jidat dan suara terkekeh-kekeh ibunya dan bapaknya tertawa melihat sikap si Bunga yang lucu.

Ibu/Bapak    : Hahaha.  Oalah nduk-nduk lha wong di masjid sudah nggak ada beduk kog nungguin beduk!
Bunga             : Huuuuuuuuh terpaksa aku puasa sampek magrib 

(*((_)*#^@%!TUWTW!!!!!).

Ketawa Yuuuuk!